Primastuti Dewi.R

About Life, Religion, Art, Science, Social, Culture, and More

Cucu Wisnu Sarman

Posted by primastuti dewi on June 4, 2008

CUCU WISNUSARMAN DAN ILMU SILUMAN

Naskah : dari Buku Cucu Wisnusarman

Aktor Monolog : Primastuti Dewi.R

Dipentaskan Pada ASE Sanggar 28 TERKAM ISTA

Yogyakarta

2006

 

 

 

Selama 40 hari cucu Wisnusarman mendekam dikamar. Setiap hari ia hanya minum air putih. Setiap dua hari ia makan telur mentah. Selama 39 hari orang tak berhasil membuka hubungan dengannya.

Hari ke-40 ia baru bicara, itu pun setelah mendengar dua suara jernih yang telah dikenalnya.

“Hai, kucing kecil,” kata suara itu. “Ini Wisnusarman”

“Selamat pagi, kek.”

“Dan ini Laotan, kenapa kamu mau bunuh diri?”

“Sama sekali bukan, kek. Saya mencari ilmu.”

“Ilmu ada di mana – mana kecuali di kamar.”

“Siapa bilang?”

“Kami berdua.”

“kakek berdua keliru. Sama sekali keliru.”

“Keliru ? Coba jelaskan.”

“Dimana-mana hanya ada penipuan, pembohongan, kemunafikan, persundalan, penindasan, dan semacamnya.”

“Mulutmu selancang umurmu. Hayo, jelaskan maksudmu!” bentak Wisnusarman.

“Ada kapal tenggelam, ada heli jatuh, ada rakyat terbunuh, ada miliaran duit amblas, ada janda dibunuh setelah digauli, ada judi hapus, ada iklan hapus, ada dokter jadi dukun, ada dukun jadi dokter, ada ibu jadi sundal, ada sundal jadi ibu, ada omong ngawur, ada orang ngawur ngomong kayak doktor, ada banyak orang pintar, hanya sedikit orang baik. Yang paling penting, seribu kali lebih banyak lagi soal yang tinggal gelap. Bosan saya Kek, Bosaaaaaan!”

“Kamu terlalu muda untuk segera putus asa. Masa depan menyongsong mu.”

“Setiap masa depan memang menyongsong, apa ada masa depan yang lewat? Itu contoh omongan ngawur.”

“Busyeet kamu, dah. Lantas kamu bertapa begitu lama untuk apa?”

“Sudah ku bilang, cari ilmu.”

“Coba, ilmu apa itu?”

“Pernah nonton The Invisible Man?

“Tontonan hanya untuk kalian yang muda – muda. Tontonan apa itu kiranya?”

“Bagaimana orang bisa menghilang.”

“Wah, pasti ia orang mumpuni. Tapi, apa betul ia mempertontonkan dirinya?”

“Betul, tapi ia tak mumpuni.”

“Tak mumpuni? Orang hilang tak mumpuni katamu?”

“Orang ini di Amerika, kok. Mana lagi hanya di film. Kalau di Indonesia sih mungkin makan sirih saja sudah mumpuni.”

“Amerika. Ilmu Amerika kan ada di sekolah. Kenapa kau menutup diri di kamar?”

“Ilmu basi. Berapa puluh tahun ilmu Amerika di jemur di sekolah. Apa yang dihasilkannya? Korupsiii! Saya mau ilmu siluman, kakek berdua dengar? Ilmu siluman!”

“Sinting kamu, kamu kira ilmu siluman itu ada?”

“Pasti.”

“Oke deh, kamu keras kepala. Andaikan ada, untuk apa ilmu semacam itu ?”

“Bayangkan kek. Dengan ilmu siluman saya akan bisa mempermainkan gadis – gadis dan janda – janda cantik di mana saja, sesuka hati.”

“Edaaan, edan pikiran mu.”

“Sama sekali tidak. Soalnya, dengan bisa menghilang, saya takkan pernah tertangkap. Takkan pernaaah!”

“Edaan, edan!”

“Sama sekali tidak kataku. Bisa ku jelaskan.”

“jelaskan hayo!”

“Kalau saya bisa menghilang, di negeri ini takkan ada lagi maling.”

“Tak akan ada maling lagi?”

“Tidak, sebab siapa yang tak berduit saya akan tahu. Begitu juga yang simpan harta tujuh turunan, saya tahu. Diam – diam, saya ambil itu duit , dan dengan diam – diam pula, saya taruh uang itu dibawah bantal si miskin. Habislah maling, habis pula si miskin.”

“He he, hehe.”

“Jangan tertawa. Negara tak perlu lagi menggaji hakim dan Jaksa”

“Bagaimana?”

“Sebab tak ada lagi yang memerlukan pengadilan. Segala niat jahat saya tahu sebelum terjadi. Semuanya saya selesaikan sebelum terjadi.”

“Hehe, hehe.”

“Ketawa lagi. Takkan perlu lagi menggaji polisi dan tentara.”

“Busyeet!”

“Kan saya bisa berkunjung kerumah siapa pun, termasuk rumah – rumah panglima, presiden – presiden, raja – raja. Segala niat politik saya tahu sebelum dilaksanakan. Segala dokumen bisa ku curi. Bayangkan, setiap orang nakal bisa ku cubit, kalau perlu ku buat takut hingga terkencing. Untuk apa polisi dan tentara?”

“Gila, benar – benar ia sudah gila.”

“Kalian yang gila. Bayangkan, tak perlu lagi perdana menteri atau raja atau presiden. Maka, tak perlu lagi ada pemilu atau partai atau ormas.”

“Kenapa tidak?”

“karena tak ada lagi huru – hara. Setiap orang yang bikin gara – gara, saya buat mati ketakutan dikamar mandinya.”

“Wah, kalau begitu akan kamu taruh dimana orang – orang itu semua?”

“Bekerja, bekerja seperti kakek berdua.”

“Boleh juga kegilaan mu. Segala rahasia dibalik peristiwa bisa kamu tahu.”

“Pasti, maka akan bubarlah segala koran, segala gosip.”

“Tapi, ilmu siluman mu itu sudah ketemu?”

“Belum. Itu target. Kan baru empat puluh hari. Arahnya sudah tepat. Segala kekurangan dan keterlambatan adalah lumrah. Semua kan bisa diatur?”

Mendengar penuturan cucunya, kedua kakek itu saling berpandangan.

 

                                                                                                         20 Maret 1981

2 Responses to “Cucu Wisnu Sarman”

  1. maia said

    seru rek…

  2. kabutpagimu said

    ahh… aku ingat drmu melakukan monolog ini

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: