Primastuti Dewi.R

About Life, Religion, Art, Science, Social, Culture, and More

Jagongan Wagen Edisi Juni 2008

Posted by primastuti dewi on June 26, 2008

Semangat Anak Tobong Di Dalam

“Kethoprak  Ngampung Balekambang”

 

Selama sekitar 20 tahun, kelompok kethoprak Balekambang menikmati manisnya masa-masa kejayaan sebagai kelompok seni pertunjukan tradisional yang diminati masyarakat Surakarta dan sekitarnya. Kelompok seni ini memiliki sebuah “tobong’ pemanen di kawasan Balekambang – Surakarta , dan para pemain juga tinggal bersama keluarga mereka di sekitar tobong tersebut. Di tempat itulah, hampir setiap malam mereka mementaskan lakon-lakon pertunjukan kethoprak yang dipenuhi oleh para penonton. Seiring dengan perjalanan waktu dan bermunculannya bentuk dan media baru di dalam dunia hiburan, kethoprak balekambang secara perlahan-lahan mulai kehilangan pamor dan penonton. Hingga kemudian benar-benar mati suri, ketika tobong mereka dibongkar sebagai bagian dari pelaksanaan renovasi dan penataan ulang kawasan Balekambang pada tahun 2006.   

 

Siapa sangka kondisi ini justru membangkitkan semangat generasi muda yang tidak lain adalah merupakan ana-anak para pemain dan pendukung kethoprak Balekambang. Mereka adalah anak tobong yang pada masa kejayaan kethoprak Balekambang tidak memiliki memiliki banyak kesempatan untuk mengembangkan potensi diri, karena sistem pembelajaran dan regenerasi. yang diberlangsungkan pada waktu itu. Melihat situasi seperti itu dan ditambah dengan keterpurukan yang dialami oleh orang tua mereka, berbekal keberanian dan semangat tinggi, anak-anak tobong ini kemudian melakukan pertunjukan berkeliling dari kampung ke kampung, memainkan pertunjukan yang mereka namakan Kethoprak Ngampung Balekambang. Walaupun pementasan dilakukan di tempat yang sederhana dan peralatan seadanya, tidak menghalamgi niatan mereka untuk menyebarkan informasi mengenai keberadaan dan kondisi kethoprak Balekambang yang sedang mengalami keterpurukan dan membutuhkan bantuan.

 

Perjalanan keliling kampung inilah yang justru menjadi ruang pembelajaran dan menempa kematangan mereka sebagai seniman kethoprak yang mandiri. Wawasan dan pergaulan mereka pun juga semakin berkembang. Di antaranya adalah dengan membangun keakraban dengan komunitas seni dan pekerja teater di Surakarta . Bersama mereka pula, anak-anak tobong yang memiliki darah segar dan akar di ranah seni pertunjukan tradisi ini, memperkaya pengetahuan untuk meningkatan pertunjukan mereka. Kethoprak Ngampung balekambang masih memiliki gaya khas (konvensional) kethoprak Balekambang yang justru berhasil dipadukan dengan hasil apresiasi mereka terhadap bermacam bentuk pertunjukan teater tradisi dan modern. Sehingga bentuk pertunjukan yang mereka mainkan menjadi lebih kaya, atraktif dan komunikatif dengan bumbu-bumbu humor segar yang menyenangkan. Alhasil, banyak pemain senior kethoprak Balekambang yang dulunya kontra pendapat dengan mereka, kini beberapa di antaranya telah ikut bergabung dan tampil dalam pertunjukan yang dikemas oleh Kethoprak Ngampung Balekambang ini.

 

Sejak tahun 2007, Kethoprak Ngampung Balekambang telah berkeliling di 18 kampung, dan 2 mall serta lebih dari 25 pementasan lainnya. Sebagai pelaku seni yang dilahirkan di kolong tobong, mereka telah membuka jalan untuk mewujudkan gagasan dan visi baru terhadap seni pertunjukan tadisi yang hendak mereka perjuangkan. Dan itu semua dilakukan tanpa merobohkan tobong yang telah melahirkan dan membesarkan mereka. Tetapi melalui sebuah tindakan nyata dan kerja keras yang membangkitkan kesadaran untuk membangun kepedulian dan pemaknaan yang relevan terhadap keberadaan seni pertunjukan tradisional (kethoprak). Karena itulah, gelaran program Jagongan Wagen – Yayasan Bagong Kussudiardja (YBK) edisi bulan Juli 2008, menghadirkan Kethoprak Ngampung Balekambang yang akan mementaskan sebuah lakon pendek berjudul Pasung yang disutradarai oleh Dwi Mustanto. Lakon ini merupakan hasil penggarapan melalui proses adaptasi dan pendekatan bentuk teater modern (barat) yang dipertemukan dan diolah dengan spirit dan gaya tobongan. Selain itu, penyajian lakon ini juga diperkaya dengan pengemasan bentuk-bentuk komedi yang mengadopsi permainan Lenong Betawi, tanpa menanggalkan kekuatan bentuk dagelan ala tobongan. Jagongan Wagen ini akan dilaksanakan terbuka untuk umum tanpa tiket masuk (gratis) pada hari Minggu29 Juni 2008 pukul 19.30 WIB bertempat di Padepokan Seni (rumah budaya YBK).

 

 

Yayasan Bagong Kussudiardja (YBK) is a non-profit performing arts center in Yogyakarta that advocates the performing arts as a medium for inclusive dialogue and learning in order to stimulate the creativity of artists and the general community. Serving artists and the general public, YBK cultivates learning processes through and about the arts by presenting works of artists, facilitating their professional development, and devising programs that increase community engagement with the arts.

 

Address:

Kembaran RT 04/RW 21 Tamantirto

Kec. Kasihan, Kab. Bantul

Yogyakarta – Indonesia

 

Tel/fax :  62 – 0274 – 376 394

E-mail :    info@ybk.or.id

Website : www.ybk.or.id

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: