Primastuti Dewi.R

About Life, Religion, Art, Science, Social, Culture, and More

Introduction of Moodle

Posted by primastuti dewi on March 14, 2010

PENGANTAR E-LEARNING

A. Definisi Elearning

Istilah e-learning mengandung pengertian yang sangat luas. Banyak pakar yang menguraikan tentang  definisi  e-learning  dari  berbagai sudut pandang berbeda. Salah satu definisi yang diterima banyak pihak adalah definisi dari Darin E. Hartley yang menyatakan:

E-learning merupakan suatu jenis belajar mengajar yang memungkinkan tersampaikannya bahan ajar ke siswa dengan menggunakan media Internet, Intranet atau media jaringan komputer lain.

LearnFrame.Com dalam Glossary of E-learning Terms menyatakan suatu definisi yang lebih luas bahwa:

E-learning  adalah  sistem  pendidikan  yang menggunakan  aplikasi  elektronik  untuk mendukung  belajar  mengajar  dengan  media  Internet,  jaringan  komputer,maupun komputer standalone.

Selain definisi di atas, masih ada beberapa terminologi lain yang berhubungan dengan e‐learning, seperti diperlihatkan pada Gambar berikut

Gambar. Berbagai Terminologi yang berhubungan dengan e‐learning

B. Komponen E-learning

Secara garis besar, ada 3 komponen utama yang menyusun e-learning:

1. E-learning System

Sistem perangkat lunak yang memvirtualisasi proses belajar mengajar konvensional. Bagaimana manajemen kelas, pembuatan materi atau konten, forum diskusi, sistem penilaian (rapor), sistem ujian online dan segala fitur yang berhubungan dengan manajemen proses belajar mengajar. Sistem perangkat lunak tersebut sering disebut dengan Learning Management System (LMS).

2. E-learning Content (Isi)

Konten dan bahan ajar yang ada pada e-learning system (learning management system). Konten dan bahan ajar ini bisa dalam bentuk Multimedia-based Content (konten berbentuk multimedia interaktif) atau Text-based Content (konten berbentuk teks seperti pada buku pelajaran biasa)

3.  E-learning Infrastructure (Peralatan)

Infrastruktur e-learning dapat berupa personal computer (PC), jaringan komputer dan perlengkapan multimedia. Termasuk di dalamnya peralatan teleconference apabila kita memberikan layanan synchronous learning melalui teleconference.

C. Kategori E-Learning

Ditinjau dari segi interaksi antara sistem dengan manusia maka ada tiga kategori dasar dari e-learning, yaitu:

1.  Synchronous Learning

Pada  pembelajaran  synchronous  kondisinya  mirip  dengan  pembelajaran konvensional hanya saja pada e-learning hal ini tidak ditandai dengan kehadiran secara fisik. Pada bentuk synchronous ini pendidik (instruktur), peserta didik dan rekan-rekannya  melakukan  “pertemuan”  secara  online  di  internet.  Melakukan proses belajar mengajar seolah sedang berada pada ruang fisik yang sama.

2.  Self-directed Learning

Pada kategori  ini peserta didik melakukan pembelajaran  secara mandiri dengan mengakses  berbagai  referensi  dan  bahan  belajar  yang  disediakan.  Tidak  ada instruktur ataupun waktu khusus untuk berdiskusi dengan sesama peserta didik. Masing-masing  peserta  didik  melakukan  proses  belajar  sesuai  dengan kebutuhannya.

3.  Asynchronous (Collaborative) Learning

Kategori  ini  mengkombinasikan  karakteristik  dari  kedua  kategori  sebelumnya. Peserta didik belajar secara mandiri namun tetap berkomunikasi dengan peserta didik  lainnya maupun dengan pendidik walaupun  tidak harus di waktu khusus. Penggunaan  email,  instant  message  (Yahoo!  Messenger,  Gtalk)  ataupun  board pada forum dapat digunakan sebagai media komunikasi dan interaksi baik dengan pendidik maupun sesama peserta didik.

Tidak ada bentuk yang sempurna karena ketiganya cocok untuk berbagai situasi yang berbeda. Tabel berikut ini akan menjelaskan secara lebih detail tentang karakteristik, kelebihan, dan kelemahan dari masing-masing kategori e-learning di atas.

No. Kategori Ciri Kelebihan Kelemahan
1 Synchronous Dipandu  oleh instruktur

Terjadwal

Kolaboratif

Familiar bagi peserta didik karena  mirip dengan pembelajaran konvensional

Adanya  komunikasi antara peserta didik

Keberadaan pendidik menjadikan  proses belajar menjadi  lebih terjamin

Memerlukan  waktu khusus

Ada  biaya  untuk instruktur

Memerlukan bandwidth  dan kecepatan  internet yang  memadai  dan setara untuk semua peserta didik

2 Self-directed Peserta  didik belajar secara mandiri

Tidak terjadwal

On  demand (proses belajar  dapat dilakukan kapanpun)

Sesuai untuk peserta didik  yang  memiliki rasa ingin tahu besar dan  aktif  mencari sumber belajar

Tidak  adanya pendidik  sebagai penjamin  kualitas proses belajar

Tidak  cocok  untuk peserta  didik  yang menyukai  belajar secara berkelompok

3 Asynchronous Dipandu  oleh instruktur

Tidak terdjadwal sepenuhnya, sesama peserta  didik dapat “bertemu” tetapi  tidak dalam  waktu yang sama.

Kolaboratif

Adanya  instruktur dapat  menjamin kualitas  dari  proses pembelajaran.

Peserta  didik  dapat menentukan  sendiri kebutuhan belajarnya  dan referensi  untuk memenuhi kebutuhan tersebut.

Masih memungkinkan pembelajaran  secara kolaboratif.

Tidak  mendukung komunikasi  dengan cepat  karena  tidak adanya  jadwal khusus
  1. D. Membangun E-learning

Menurut Henderson ada beberapa langkah yang bisa dilakukan untuk membangun sebuah sistem e-learning:

1.  Menentukan Tujuan dari Sistem e-learning

Pada  tahap  ini  pengembang  sistem  harus  menentukan  apa  yang  ingin  dicapai dengan adanya e-learning tersebut. Tahap ini biasanya dengan mudah dilupakan akibat antusiasme berlebihan dari pengembang sistem e-learning. Pada akhirnya e-learning tersebut tidak akan sesuai dengan kebutuhan calon pengguna dan tidak memberikan hasil yang diharapkan.

2.  Memulai Sistem dalam Skala Kecil

Beberapa pengembang memilih untuk memulai sistem  e-elarning  langsung pada skala  besar.  Hal  ini  kurang  baik  ditinjau  dari  segi  manajemen  resiko  karena proyek  dalam  skala  besar  juga  memiliki  resiko  kegagalan  yang  besar  pula. Sebaiknya  e-learning  dimulai  terlebih  dahulu  pada  sebuah  unit  yang  kecil  dan dievaluasi  sepenuhnya  terlebih  dahulu  untuk menjadi model  bagi  sistem  dalam skala yang lebih besar.

3.  Mengkomunikasikan dengan Peserta Didik

Menerapkan  sebuah  sistem  baru  akan  memberikan  tingkat  keberhasilan  lebih baik apabila sasaran dari sistem tersebut memahami dengan baik sistem tersebut. Demikian pula dengan e-learning, apabila peserta didik memahami tentang sistem yang dibangun dan dikembangkan maka mereka dapat turut memberikan bantuan untuk  mencapai  tujuan  e-learning  tersebut.  Didasari  alasan  tersebut  maka pengembang sistem e-learning seharusnya selalu mengkomunikasikan sistem yang sedang coba dibangun kepada peserta didik.

4.  Melakukan Evaluasi secara Kontinyu

Evaluasi  terhadap  sistem  dan  segenap  aspeknya  perlu  dilakukan  secara  terus menerus  untuk  menjamin  keberhasilan  penerapan  e-learning.  Membandingkan hasil  belajar  peserta  didik  dengan  pembelajaran  secara  konvensional  dapat  memberikan  justifikasi apakah sistem e-learning yang dikembangkan memenuhi standar keberhasilan proses pembelajaran atau tidak.

5.  Mengembangkan sistem dalam skala lebih besar

Setelah sistem mencapai keberhasilan dalam skala kecil maka selanjutnya adalah mengembangkan sistem dalam skala lebih besar. Menambah jumlah peserta didik, mata pelajaran, model  evaluasi dan  berbagai  aspek pembelajaran  lainnya dapat dilakukan  dengan  mengacu  model  dari  skala  yang  lebih  kecil  yang  telah dikembangkan sebelumnya. Seperti tampak pada Gambar 2.

Gambar 2. Memulai Sistem dari Skala Kecil dan Memperluasnya Secara Bertahap

E. Elearning dan Metodologi Pembelajaran

Bagaimana e-learning diimplementasikan? Apakah sistem e-learning yang akan diselenggarakan tersebut benar-benar sebuah trully electronic learning? Melihat kenyataan di lapangan, walaupun teknologi informasi telah maju dengan sangat pesatnya, ternyata pendidikan yang mengimplementasikan IT-Based Education secara murni masih sulit ditemukan, karena masih banyak faktor kendala yang lain, terutama dari sisi sumber daya manusia dan sarana atau infrastruktur pendukung.

Namun dalam perkembangannya masih dijumpai kendala dan hambatan untuk mengaplikasikan sistem e-learning ini, antara lain:

a)      Masih kurangnya kemampuan menggunakan Internet sebagai sumber pembelajaran.

b)      Biaya  yang  diperlukan  masih  relatif mahal untuk tahap-tahap awal

c)      Belum memadainya perhatian dari berbagai pihak terhadap pembelajaran melalui Internet

d)      Belum memadainya infrastruktur pendukung untuk daerah-daerah tertentu

Selain kendala dan hambatan tersebut di atas, kelemahan lain yang dimiliki oleh sistem e-learning ini yaitu hilangnya nuansa pendidikan yang terjadi antara pendidik dengan peserta didik, karena yang menjadi unsur utama dalam e-learning adalah pembelajaran.

Maka kemudian dalam impelementasinya, banyak model e-learning yang dikembangkan dan diadopsi ke dalam pendidikan konvensional atau sebaliknya model konvensional diadopsi ke dalam model e-learning (Gambar 3).

Gambar 3. Model Penyelenggaraan e‐Learning

F. Learning Management System

Dalam proses penyelenggaraan e-learning dibutuhkan sebuah Learning Management System (LMS), yang berfungsi untuk mengatur tata laksana penyelenggaraan pembelajaran di dalam model e-learning. LMS sering dikenal dikenal sebagai CMS (Course Management System). Umumnya CMS dibangun berbasis web, yang akan berjalan pada sebuah web server dan dapat diakses oleh peserta melalui web browser (web client). Server biasanya ditempatkan di universitas atau lembaga lainnya, yang dapat diakses  oleh peserta darimana saja dengan memanfaatkan koneksi internet.

Secara dasar CMS memberikan sebuah tool bagi instruktur atau pendidik untuk membuat website pendidikan dan mengatur akses kontrol, sehingga hanya peserta yang  terdaftar yang dapat mengakses dan melihatnya. Selain menyediakan pengontrolan, CMS  juga menyediakan barbagai tools yang menjadikan pembelajaran lebih efektif dan efisien. Contoh tools yang disediakan adalah layanan untuk mempermudah upload dan share material pengajaran, diskusi online, chatting, kuis, survey, laporan (report) dan sebagainya.

Secara umum, fungsi‐fungsi yang harus terdapat pada sebuah LMS/CMS antara lain:

1) Uploading and Sharing Materials

Umumnya LMS/CMS menyediakan layanan untuk mempemudah proses publikasi konten. Dengan menggunakan  editor HTML, kemudian mengirim dokumen melalui FTP server, sehingga memudahkan instruktur untuk menempatkan materi ajarnya sesuai dengan  silabus yang mereka buat. Kebanyakan instruktur mengupload silabus kelas, catatan  materi, penilaian dan artikel‐artikel siswa kapan pun dan dimana pun mereka berada.

2) Forums and Chats

Forum online dan chatting menyediakan layanan komunikasi dua arah antara instruktur dengan peserta, baik dilakukan secara sinkron (chat) maupun asinkron (forum, email).  Sehingga dengan fasilitas ini, memungkinkan siswa untuk menulis tanggapannya dan mendiskusikan dengan teman‐temannya yang lain.

3) Quizzes and Surveys

Kuis dan survey secara online dapat digunakan untuk memberikan grade secara instan bagi  peserta kursus. Hal ini merupakan tool yang sangat baik digunakan untuk mendapatkan respon (feedback) langsung dari siswa yang sesuai dengan kemapuan dan daya serap yang mereka miliki. Proses ini dapat juga dilakukan dengan membangun sebuah bank soal,  yang kemudian soal tersebut dapat di-generate secara acak untuk muncul dalam kuis.

4) Gathering and Reviewing Assignments

Proses pemberian nilai dan skoring kepada siswa dapat juga dilakukan secara online dengan bantuan LMS/ CMS ini.

5) Recording Grades

Fungsi lain dari LMS/CMS adalah melakukan perekaman data grade siswa secara otomatis, sesuai konfigurasi dan pengaturan yang dilakukan oleh instruktur dari awal kelas dilaksanakan.


INSTALASI MOODLE

A. Pengenalan Moodle

Moodle adalah suatu course Content Management System (CMS) yang diperkenalkan pertama kali oleh Martin Dougiamas. Dia adalah seorang ahli komputer dan pendidik yang  menghabiskan sebagian waktunya untuk mengembangkan learning management sytem di salah satu perguruan tinggi di kota Perth, Australia.

Nama Moodle telah memberikan banyak inspirasi bagi pengembangan e‐learning. Dari dokumentasi official Moodle, istilah Moodle dijelaskan sebagai berikut :

The word Moodle was originally an acronym  for Modular ObjectOriented Dynamic  Learning Environment, which is mostly useful  to programmers and education theorists. It’s  also a verb that describes the process of lazily meandering through something, doing things as it occurs to you to do them, an enjoyable  tinkering  that often leads to insight and creativity. As such it applies both to the way Moodle was developed, and  to  the way a  student or  teacher might approach studying or teaching an online course. Anyone who uses Moodle is a Moodler. (www.moodle.org)

Lebih jauh, William Rice menjelaskan tentang Moodle sebagai berikut :

Moodle is a free learning management system  that enables you to create powerful, flexible, and engaging online learning experiences. I use the phrase “online learning experiences” instead of “online courses” deliberately. The phrase “online course” often connotes a sequential series of web pages, some images, maybe a few animations, and a quiz put online. There might be some email or bulletin board communication between the teacher and students. However, online learning can be much more engaging than that.

Moodle merupakan sebuah CMS berbasis open source yang saat ini digunakan oleh universitas, lembaga pendidikan, sekolah, bisnis dan instruktur individual yang ingin menggunakan teknologi web untuk pengelolaan kursusnya. Moodle tersedia secara gratis di web www.moodle.org, sehingga  siapa saja  dapat  mendownload  dan  menginstalnya.   Hingga tahun 2009 ini, Moodle telah dipakai oleh lebih dari 200 organisasi pendidikan di seluruh dan telah diterjemahkan ke dalam 78 bahasa termasuk  bahasa  Indonesia,  sehingga  semakin mempermudah  kita  dalam mengembangkan aplikasi e‐learning.

Beberapa alasan yang menjadikan Moodle sebagai salah satu LMS/CMS yang populer digunakan oleh banyak institusi pendidikan, antara lain :

1.  Free dan Open Source

Moodle  bernaung  dibawah  bendera  open  source,  sehingga  dengan  demikian  semua orang  dapat  memodifikasinya  sesuai  dengan  kebutuhan  dari  institusi  yang menggunakannya. Moodle disistribusikan secara gratis, sehingga tidak membutuhkan dana untuk membeli  aplikasinya,  kecuali  dana  yang  dibutuhkan  untuk membayar  bandwidth  yang terpakai untuk mendownload 15 MB master Moodle.

2.  Ukuran kecil, kemampuan maksimal

Dengan  ukuran  yang  kecil  (sekitar  15  MB  untuk  versi  Moodle  1.9.5),  namun  mampu mengola  aktifitas  kegiatan  akademik  dan  pembelajaran  hingga  seukuran  sebuah universitas dengan jumlah siswa sekitar 50.000 orang.

3.  Dilandasi oleh Educational Philosophy

Moodle tidak dibangun oleh seorang ahli komputer murni, tetapi berdasarkan pengalaman  dan latar belakang tenaga pendidik. Dengan demikian Moodle mampu mengakomodir hampir  semua kebutuhan pendidikan konvensional yang ditransfer dalam wujud online learning.

4.  Mempunyai Komunitas yang besar dan saling berbagi

Komunitas pengguna Moodle tergabung dalam suatu organisasi yang bernaung di bawah bendera www.moodle.org. Jumlah yang terdaftar saat ini lebih dari 700 ribu member.

B. Instalasi Moodle

Untuk mendapatkan aplikasi Moodle terbaru saat ini bisa di-download dari alamat http://download.moodle.org. Ada 2 jenis distribusi Moodle, yaitu dalam bentuk kompresi .tgz dan .zip. Selain itu, Moodle juga menyediakan paket aplikasi lengkap yang didalamnya sudah dilengkapi dengan web server Apache, database server MySQL dan PHP. Dalam praktikum ini kita akan menggunakan Standard Moodle Distribution, yaitu paket aplikasi Moodle yang tanpa dilengkapi web server dan database server. Oleh karena itu, di komputer Anda sudah harus terpasang Apache, MySQL dan PHP.

Langkah 1: Instalasi Web server & Database Server

Moodle adalah aplikasi berbasis web yang harus berjalan pada web server. Anda harus meletakkan aplikasi Moodle di direktori server. Aplikasi web server yang dianjurkan agar Moodle bisa bekerja dengan baik adalah Apache, PHP dan MySQL. Cara termudah untuk meng-install Apache web server dan MySQL adalah menggunakan aplikasi open source XAMPP (http://www.apachefriends.org). XAMPP adalah all-in-one installer yang terdiri dari Apache, MySQL, PHP, dan Perl. Paket ini tersedia dalam berbagai platform, seperti Linux, Windows, Mac, dan Solaris.

Langkah-langkah untuk meng-install XAMPP pada sistem Windows adalah sebagai berikut:

  1. Jalankan file installer xampp-win32-1.7.1-installer.
  2. Selanjutnya ditampilkan jendela proses instalasi. Klik Next untuk memulainya.

3. Selanjutnya pilih lokasi instalasi untuk XAMPP. Secara default XAMPP akan diinstal di direktori ‘c:\xampp’. Kemudian klik Next.

4. Selanjutkan XAMPP akan menampilkan beberapa opsi instalasi. Untuk memudahkan operasional, install semua aplikasi service yang disediakan.

5. Proses instalasi dimulai. Tunggu hingga proses instalasi selesai.

Sampai tahap ini, Anda sudah selesai meng-install XAMPP. Dengan demikian, di komputer Anda sudah terdapat aplikasi Apache, PHP dan MySQL. Langkah selanjutnya adalah menjalankan service-nya.

6. Jalankan XAMPP Control Panel yang ada di Desktop. Aktifkan Modules Apache dan MySql dengan menekan tombol Start.

7. Untuk menguji apakah Apache dan MySQL sudah berjalan dengan baik, buka web browser Anda, lalu ketikkan http://localhost. Jika muncul tampilan berikut, maka Apache sudah ter-install dengan benar.


Langkah 2: Extract / Unpack Paket Moodle

Paket Moodle tersedia dalam 2 format kompresi: .tgz dan .zip. Untuk mengekstraknya, Anda bisa menggunakan program kompresi seperti Winzip atau Winrar. Dengan menggunakan program tersebut, ekstrak lah paket Moodle ke direktori ‘C:\xampp\htdocs’.


Untuk memastikan semua file sudah diekstrak dengan benar, buka direktori tujuan ‘C:\xampp\htdocs\moodle’ dengan Windows Explorer. Pastikan semua semua file yang ada di paket Moodle telah diekstrak.


Langkah 3: Buat Database Moodle

Moodle membutuhkan database untuk menyimpan semua informasi yang akan ditampilkan di website. Berikut langkah-langkah untuk membuat database Moodle:

1)      Buka http://localhost/phpmyadmin dari web browser

2)      Tulis ‘db_moodle’ pada kolom Ciptakan database baru dan selanjutnya klik tombol Ciptakan.


Secara default, phpMyAdmin akan menggunakan user “root” dan tanpa password untuk database baru. Anda bisa menggunakan konfigurasi ini untuk testing server, tetapi penggunaan user “root” tidak dianjurkan pada sistem produksi.

Langkah 4: Instalasi Script Moodle

Moodle menyediakan installer script yang berisi step-by-step instalasi mulai dari pembuatan tabel hingga konfigurasi variabel yang digunakan untuk menjalankan Moodle.

1)      Buka web browser dan jalankan installer script yang disediakan oleh Moodle dengan mengetikkan alamat http://localhost/moodle/install.php. Pada awal proses instalasi akan ditampilkan halaman untuk memilih bahasa selama proses instalasi. Untuk memudahkan Anda pilih “Indonesian (id)” dan tekan tombol Selanjutnya.


2)      Selanjutnya sistem akan memeriksa konfigurasi pada web server Anda. Jika tidak terjadi kesalahan maka akan ditandai dengan tulisan “Pass” pada semua proses. Klik tombol Selanjutnya.


3)      Halaman berikutnya akan menampilkan konfirmasi letak Web Address, Moodle Directory dan Data Directory. Data directory adalah folder yang disediakan khusus sebagai tempat menyimpan semua file yang di-upload oleh member (student).


4)      Halaman berikutnya akan menampilkan pengaturan konfigurasi database. Saat ini aplikasi Moodle bisa digunakan pada database MySQL dan PostgreSQL. Isi bagian Type, Host Server, Database, Pengguna, Password dan Tables Prefix sesuai contoh di bawah. Kemudian klik tombol Selanjutnya.


5)      Halaman berikutnya akan menampilkan status server Anda dan kebutuhan sistim aplikasi Moodle. Klik tombol Selanjutnya.


6)      Halaman selanjutnya akan menawarkan kepada Anda untuk men-download paket bahasa yang kita pilih. Anda bisa memilih “Indonesian (id) language pack” untuk men-download paket bahasa Indonesia. Klik Selanjutnya untuk melanjutkan proses instalasi.


7)      Proses berikutnya adalah membuat file konfigurasi config.php.


8)      Selanjutnya akan ditampilkan GPL License yang merupakan lisensi dari Moodle. Baca lisensi tersebut dengan baik. Klik tombol Yes untuk melanjutkan.


9)      Selanjutnya Moodle akan melakukan proses pembuatan tabel-tabel pada database baru. Ikutilah prose tersebut dengan klik tombol Continue.


10)  Setelah instalasi tabel selesai, halaman berikutnya akan menampilkan konfigurasi account administrator. Anda harus melengkapi semua data administrator yang diberi tanda mask (*). Klik tombol Update Profile jika sudah selesai.


11)  Pada bagian terakhir, Anda harus mengisi konfigurasi halaman awal situs tersebut. Konfigurasi ini yang nanti akan ditampilkan pada halaman awal Moodle yang Anda buat. Klik tombol Save Changes untuk mengakhiri.


12)  Anda telah selesai melakukan instalasi. Selanjutnya browser akan di-redirect ke halaman awal Moodle.


3 Responses to “Introduction of Moodle”

  1. dida said

    terima kasih atas tulisan ini🙂

  2. parcom said

    hu uh … sama ..😀

  3. agp said

    makasih lagi dcari2 nih…numpang nyedot….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: